----------------------------------------------- Blogger Template Style Name: Travel Designer: Sookhee Lee URL: www.plyfly.net ----------------------------------------------- */ /* Variable definitions ==================== */ /* Content ----------------------------------------------- */ body { font: normal normal 13px Coming Soon; color: #6d6d6d; background: #adbbd5 url(http://themes.googleusercontent.com/image?id=1yCqzoXfTY3VhaTtS_2w31Trgk3LHk1kH1lSKIEivmW1OcaCeDlaGs_mBlO1T6KetEvus) no-repeat fixed top center /* Credit: mariusFM77 (http://www.istockphoto.com/googleimages.php?id=4940465&platform=blogger) */; } html body .region-inner { min-width: 0; max-width: 100%; width: auto; } a:link { text-decoration:none; color: #f4558c; } a:visited { text-decoration:none; color: #0957c8; } a:hover { text-decoration:underline; color: #0a6eff; } .content-outer .content-cap-top { height: 0; background: transparent none repeat-x scroll top center; } .content-outer { margin: 0 auto; padding-top: 20px; } .content-inner { background: transparent url(http://www.blogblog.com/1kt/travel/bg_black_70.png) repeat scroll top left; background-position: left -0; background-color: transparent; padding: 20px; } .main-inner .date-outer { margin-bottom: 2em; } /* Header ----------------------------------------------- */ .header-inner .Header .titlewrapper, .header-inner .Header .descriptionwrapper { padding-left: 10px; padding-right: 10px; } .Header h1 { font: normal normal 60px Kranky; color: #ffffff; } .Header h1 a { color: #ffffff; } .Header .description { font-size: 130%; } /* Tabs ----------------------------------------------- */ .tabs-inner { margin: 1em 0 0; padding: 0; } .tabs-inner .section { margin: 0; } .tabs-inner .widget ul { padding: 0; background: transparent url(http://www.blogblog.com/1kt/travel/bg_black_50.png) repeat scroll top center; } .tabs-inner .widget li { border: none; } .tabs-inner .widget li a { display: inline-block; padding: 1em 1.5em; color: #ffffff; font: normal bold 16px Consolas; } .tabs-inner .widget li.selected a, .tabs-inner .widget li a:hover { position: relative; z-index: 1; background: transparent url(http://www.blogblog.com/1kt/travel/bg_black_50.png) repeat scroll top center; color: #ffffff; } /* Headings ----------------------------------------------- */ h2 { font: normal bold 14px 'Trebuchet MS',Trebuchet,sans-serif; color: #ffffff; } .main-inner h2.date-header { font: normal normal 14px Chewy; color: #6d6d6d; } .footer-inner .widget h2, .sidebar .widget h2 { padding-bottom: .5em; } /* Main ----------------------------------------------- */ .main-inner { padding: 20px 0; } .main-inner .column-center-inner { padding: 20px 0; } .main-inner .column-center-inner .section { margin: 0 20px; } .main-inner .column-right-inner { margin-left: 20px; } .main-inner .fauxcolumn-right-outer .fauxcolumn-inner { margin-left: 20px; background: transparent none repeat scroll top left; } .main-inner .column-left-inner { margin-right: 20px; } .main-inner .fauxcolumn-left-outer .fauxcolumn-inner { margin-right: 20px; background: transparent none repeat scroll top left; } .main-inner .column-left-inner, .main-inner .column-right-inner { padding: 15px 0; } /* Posts ----------------------------------------------- */ h3.post-title { margin-top: 20px; } h3.post-title a { font: normal bold 20px 'Trebuchet MS',Trebuchet,sans-serif; color: #000000; } h3.post-title a:hover { text-decoration: underline; } .main-inner .column-center-outer { background: #ffffff none repeat scroll top left; _background-image: none; } .post-body { line-height: 1.4; position: relative; } .post-header { margin: 0 0 1em; line-height: 1.6; } .post-footer { margin: .5em 0; line-height: 1.6; } #blog-pager { font-size: 140%; } #comments { background: #cccccc none repeat scroll top center; padding: 15px; } #comments .comment-author { padding-top: 1.5em; } #comments h4, #comments .comment-author a, #comments .comment-timestamp a { color: #000000; } #comments .comment-author:first-child { padding-top: 0; border-top: none; } .avatar-image-container { margin: .2em 0 0; } /* Widgets ----------------------------------------------- */ .sidebar .widget { border-bottom: 2px solid transparent; padding-bottom: 10px; margin: 10px 0; } .sidebar .widget:first-child { margin-top: 0; } .sidebar .widget:last-child { border-bottom: none; margin-bottom: 0; padding-bottom: 0; } .footer-inner .widget, .sidebar .widget { font: normal normal 13px Coming Soon; color: #cecece; } .sidebar .widget a:link { color: #cecece; text-decoration: none; } .sidebar .widget a:visited { color: #0957c8; } .sidebar .widget a:hover { color: #cecece; text-decoration: underline; } .footer-inner .widget a:link { color: #f4558c; text-decoration: none; } .footer-inner .widget a:visited { color: #0957c8; } .footer-inner .widget a:hover { color: #f4558c; text-decoration: underline; } .widget .zippy { color: #ffffff; } .footer-inner { background: transparent none repeat scroll top center; } /* Mobile ----------------------------------------------- */ body.mobile { padding: 0 10px; background-size: 100% auto; } body.mobile .AdSense { margin: 0 -10px; } .mobile .body-fauxcolumn-outer { background: transparent none repeat scroll top left; } .mobile .footer-inner .widget a:link { color: #cecece; text-decoration: none; } .mobile .footer-inner .widget a:visited { color: #0957c8; } .mobile-post-outer a { color: #000000; } .mobile-link-button { background-color: #f4558c; } .mobile-link-button a:link, .mobile-link-button a:visited { color: #adbbd5; } .mobile-index-contents { color: #6d6d6d; } .mobile .tabs-inner .PageList .widget-content { background: transparent url(http://www.blogblog.com/1kt/travel/bg_black_50.png) repeat scroll top center; color: #ffffff; } .mobile .tabs-inner .PageList .widget-content .pagelist-arrow { border-left: 1px solid #ffffff; } -->
FIND THE INCREDIBLE SIDE BEHIND THIS INCREDIBLE WORLD. CAUSE YOU'RE INCREDIBLE ONE

Jumat, 27 Mei 2011

MINYAK BUMI SELENGKAPNYA


A.  Pengertian minyak bumi
Minyak bumi (bahasa Inggrispetroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas dari beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam penampilan, komposisi, dan kemurniannya.

B.  Komposisi Minyak bumi
Komposisi minyak bumi dikelompokkan ke dalam empat kelompok, yaitu:
Hidrokarbon Jenuh (alkana)
§   Dikenal dengan alkana atau parafin
§   Keberadaan rantai lurus sebagai komponen utama (terbanyak), sedangkan rantai bercabang lebih sedikit
§   Senyawa penyusun diantaranya:
1.    Metana CH4
2.    etana CH3 CH3
3.    propana CH3 CH2 CH3
4.    butana CH3 (CH2)2 CH3
5.    n-heptana CH3 (CH2)5 CH3
6.    iso oktana CH3 – C(CH3)2 CH2 CH (CH3)Compose
mau yang lengkap?

gambar 2.1 hidrokarbon
Hidrokarbon Tak Jenuh (alkena)
§   Dikenal dengan alkena
§   Keberadaannya hanya sedikit
§   Senyawa penyusunnya:
1.         Etena, CHCH2
2.         Propena, CH2 CH CH3
3.         Butena, CH2 CH CH2 CH3

Hidrokarbon Jenuh berantai siklik (sikloalkana)
§   Dikenal dengan sikloalkana atau naftena
§   Keberadaannya lebih sedikit dibanding alkana
§   Senyawa penyusunnya :
1.                   Siklopropana                   3.     Siklopentana
 
2.                   Siklobutana                  4.    Siklopheksana
 
Hidrokarbon aromatik
§  Dikenal sebagai seri aromatik
§  Keberadaannya sebagai komponen yang kecil/sedikit
§  Senyawa penyusunannya:

1.    Naftalena                             3.    Benzena

1.    Antrasena                                                4.     Toluena
 
Senyawa Lain
Unsur
Minyak Mentah
Aspal
Gas Bumi
Karbon ( C )
Hidrogen ( H )
Belerang ( S  )
Nitrogen ( N )
Oksigen ( O )
82 – 87
11 – 14
0,0 – 5,5
0,1 – 4
0,1 – 4,5
80 – 85
8,5 – 11
2 – 8
0 – 2
-
65 – 80
1 – 25
0 – 0,2
1 – 15
-


A.  Proses terbentuknya minyak bumi
Minyak bumi terbentuk dari organisme, tumbuhan, dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme ini mati, lalu terkubur di dasar laut dan kemudian tertimbun oleh pasir dan lumpur. Kemudian ia akan terbentuk lapisan yang kaya akan zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan. Proses ini berulang secara terus-menerus, sehingga satu lapisan akan menutup lapisan berikutnya. Dan ini berlangsung selama jutaan tahun. Selama jutaan tahun itu pula dimungkinkan lautan tersebut menyusut dan berpindah tempat karena adanya gerakan dari lempeng-lempeng bumi.
Endapan yang terbentuk ini umumnya kekurangan oksigen. Sehingga tidak memungkinkan material organik dari organisme, tumbuhan, maupun hewan tersebut terdekomposisi secara sempurnya. Tetapi ada bakteri anaerob (tidak menggunakan oksigen dalam hidupnya) yang mengurai material ini, sedikit demi sedikit, molekul demi molekul, selama jutaan tahun menjadi material yang kaya akan hidrogen dan karbon. Seiring dengan terdekomposisinya material ini, muncul tekanan yang disebabkan oleh batuan yang mengendap di atasnya, sehingga temperatur dan tekanannya menjadi tinggi dan kemudian secara perlahan-lahan akan mengubah sisa-sisa bahan organik tersebut menjadi minyak dan gas bumi.








Gambar 2.2 lokasi minyak bumi

Minyak bumi yang dihasilkan ini kemudian akan bergerak ke lapisan batuan yang atas karena massa jenisnya yang rendah. Minyak bumi ini akan menuju batuan yang mempunyai pori-pori yang ukurannya cukup. Sehingga minyak akan terakumulasi di lapisan batuan tersebut. Lapisan batuan yang bisa mengandung minyak inilah yang disebut dengan reservoir minyak. Jika tidak menemui hambatan, minyak bumi dapat mencapai permukaan bumi. Akan tetapi, pada umumnya minyak bumi terperangkap dalam bebatuan yang tidak berpori dalam pergerakannya ke atas. Hal ini menjelaskan mengapa minyak bumi juga disebut petroleum. (Petro-leum dari bahasa Latin petrus artinya batu dan oleum artinya minyak). Untuk memperoleh minyak bumi atau petroleum ini, dilakukan pengeboran.
Tidak sampai disitu saja, para ahli masih harus mencari dimana lokasi minyak bumi. Para ahli menggunakan beberapa langkah untuk menemukan lokasi minyak bumi, yaitu sebagai berikut:
·           Pertama, para ahli mengamati petunjuk di permukaan bumi. Minyak bumi biasanya dapat ditemukan di bawah permukaan yang berbentuk kubah. Lokasinya bisa di daratan yang sebelumnya lautan atau di lepas pantai.
·           Kedua, para ahli melakukan survei seismik untuk menentukan struktur batuan di bawah permukaan tersebut.
·           Selanjutnya, para ahli melakukan pengeboran kecil
untuk menentukan ada tidaknya minyak.
Jika ada, maka dilakukan beberapa pengeboran
untuk memperkirakan apakah jumlah minyak bumi
tersebut ekonomis untuk diambil atau tidak.




                       Gambar 2.3 Alat berat untuk                     pengeboran minyak

Pengeboran untuk mengambil minyak bumi di lepas pantai dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
·       Menanam jalur pipa di dasar laut dan memompa minyak (dan gas alam) ke daratan. Cara ini digunakan apabila jarak ladang minyak cukup dekat ke daratan.
·       Membuat anjungan di mana minyak bumi (dan gas alam) selanjutnya dibawa oleh kapal tanker menuju daratan.
Di darat, minyak bumi (dan gas alam) dibawa ke kilang minyak (refinery) untuk diolah.
A.  Negara penghasil minyak bumi terbanyak
Berikut ini adalah Negara-negara Penghasil Minyak Bumi Terbesar dan Terbanyak Diurutkan berdasar jumlah produksi tahun 2006 dan total produksinya dalam juta barrel per hari

1. Arab Saudi - 10,665
2. Rusia - 9,667
3. Amerika Serikat - 8,331
4. Iran - 4,148
5. Republik Rakyat Cina - 3,858

6. Meksiko - 3,707
7. Kanada - 3,288
8. Uni Emirat Arab - 3,0
9. Venezuela - 2,803
10. Norwegia - 2,786
11. Kuwait - 2,675
12. Nigeria - 2,443
13. Brasil - 2,166
14. Aljazair - 2,122
15. Irak - 2,008

B.  Permasalahan minyak bumi Dunia
Saat ini dunia sangat bergantung kepada minyak bumi sebagai sumber energi. Namun, minyak bumi ini adalah sumber energi yang tak dapat diperbaharui. Sedikit yang membantah bahwa minyak bumi suatu saat akan habis dan manusia akan terpaksa beralih ke jenis energi lainnya. Yang menjadi masalah kini bukanlah apakah minyak akan habis, tetapikapan minyak akan habis. Ini adalah yang kita sebut sebagai krisis minyak dunia.
Cara yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan mulainya krisis minyak adalah Hubbert Peak yang diperkenalkan oleh ahli geofisika M. King HubbertHubbert Peak adalah sebuah model untuk mengestimasi puncak dari produksi minyak dunia.
Pada tahun 1956, Hubbert memprediksikan bahwa produksi minyak di Amerika Serikat akan mencapai puncaknya pada tahun 1970. Dan ternyata puncak tersebut terjadi pada tahun 1971. Menurut Hubbard, cadangan minyak Amerika Serikat akan habis pada akhir abad ke-21.
Pada tahun 1971, Hubbert kembali mencoba untuk memprediksi puncak produksi minyak, kali ini untuk produksi minyak dunia. Menurut beliau, puncak produksi minyak dunia akan terjadi pada tahun 1995-2000. Prediksi ini meleset karena sampai saat ini produksi minyak dunia masih menunjukkan peningkatan. Tetapi ada kemungkinan ini disebabkan oleh faktor-faktor lain yang dapat menunda peak ini, yaitu: krisis energe 1997, perang teluk, dan resesi pada tahun 1980 dan 1990-an.
Salah satu organisasi yang paling konservatif dalam memprediksiHubbert Peak adalah the Association for the Study of Peak Oil and Gas(ASPO). Organisasi ini pernah memprediksikan bahwa Hubbert Peakakan terjadi pada tahun 2000, 2002, 2004 dan kini mereka memperkirakan bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2007. Walaupun akibatnya kini banyak yang tidak mempercayai organisasi ini, perubahan tersebut terjadi karena peningkatan produksi di Rusia serta peningkatan produksi dari sumber-sumber non konvensional seperti pasir minyak.
Freddie Hutter dari Trendlines.ca –salah satu kritikus dari ASPO– berpendapat bahwa Hubbert Peak akan terjadi pada tahun 2010. Freddie Hutter juga melakukan kompilasi beberapa pendapat mengenai kapan Hubbert Peak ini akan terjadi.
Berikut adalah grafik buatan Freddie Hutter yang merupakan kompilasi dari beberapa pendapat tentang Hubbert Peak dari Exxonmobil, OPEC, EIA, IEA, Jean Laherrère, Colin Campbell (ASPO), Total, BP dan Rembrandt Koppelaar.
Dapat dilihat bahwa Hubbert Peak diprediksikan akan terjadi paling cepat tahun 2007 (prediksi Colin Campbell dari ASPO) dan paling lama sekitar tahun 2050 (prediksi Exxonmobil, OPEC dan EIA). Namun perlu diperhatikan bahwa pihak-pihak yang memprediksikan bahwa peakmasih lama terjadi adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksploitasi minyak bumi.

C.  Permasalahan Minyak Bumi Di Indonesia
Industri minyak bumi dunia dalam empat tahun terakhir berkembang terutama didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang naik dan bertahan tinggi hingga puncaknya mencapai US$130 per barrel.

Namun, tingginya harga tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan Indonesia karena tingkat produksi yang justru cenderung turun. Masalah minyak bumi yang dihadapi Indonesia antara lain:

Cadangan minyak bumi turun

Cadangan minyak bumi Indonesia dalam satu dekade terakhir terus menunjukkan tren yang menurun. Setelah sempat naik pada tahun 2006 sebesar 2,8 persen menjadi 4370 juta barrel dalam dua tahun terakhir hingga tahun 2008 cadangan minyak bumi Indonesia kembali menurun.

Pada tahun 2007 cadangan turun sebesar 8,5 persen menjadi 4000 juta barrel. Cadangan ini kembali turun pada tahun 2008 yakni sebesar 7,5 persen menjadi 3700 barrel.

Sumber-sumber yang masih sebagai potensi cadangan menjadi harapan bagi prospek industri minyak bumi di Indonesia. Hingga tahun 2008 potensi cadangan minyak bumi Indonesia mencapai 4.471,72 juta stok barrel.

Cadangan di Sumatera Tengah terbesar

Cadangan minyak bumi terbesar terletak di Sumatera Tengah yakni mencapai 4163,75. Cadangan terbesar kedua terletak di Provinsi Jawa Timur tepatnya di daerah Cepu.

Terdapat beberapa lokasi yang cadangan minyaknya di atas 500 juta stok barrel yakni Sumatera Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Jawa Barat.

Di luar cadangan minyak yang telah terbukti sebesar 3,7 juta stok barrel pada tahun 2008, terdapat potensi cadangan yang cukup besar yakni mencapai sekitar 4,5 juta stok barrel. Cadangan minyak pada lokasi-lokasi tersebut menjadi tulang punggung produksi minyak mentah nasional.

Dengan mulai menurunnya produksi pada beberapa sumur-sumur minyak yang cukup besar maka pada tahun-tahun mendatang prospek industri hulu minyak bumi di Indonesia sangat tergantung dengan penemuan sumber minyak baru yang cukup besar.

Kegiatan ekspolorasi turun pada tahun 2008

Survei seismik sebagai bagian dari kegiatan eksplorasi menjadi salah satu langkah penting dalam penemuan cadangan baru minyak bumi. Survey seismic dibedakan menjadi dua yakni survey 2 dimensi dan survey 3 dimensi.

Pada tahun 2008, survek seismik 2 dimensi mencakup luas 452 km yang semuanya merupakan survei di daratan. Luasan ini turun jauh dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 30.335,67 km persegi yang terdiri dari survey daratan seluas 23.522,17 km persegi dan survey di laut seluas 6.833,5 km persegi.

Sementara itu, survey 3 dimensi juga menunjukkan tren yang sama yakni menurun. Pada tahun 2008 luasan survey mencapai 240 km persegi yang semuanya merupakan survey daratan. Luasan ini jauh dibawah tahun 2007 yang mencapai 12.774,5 km persegi.

Beberapa survei seismik pada tahun 2009 antara lain survei seismik-2D untuk mengetahui potensi kandungan gas dan minyak lepas pantai Blok East Muriah-Laut Jawa akan dilakukan bulan Juli 2009. Rencananya, kegiatan ini akan menghabiskan waktu kurang dari dua bulan.

Wilayah yang akan di survei seluas 4.999,97 kilometer persegi berada di lepas pantai laut Jawa atau berbatasan langsung dengan Pulau Bawean.

Produksi minyak mentah cenderung turun

Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak mentah Indonesia terus tertekan. Tingkat produksi minyak mentah (lifting) pada tahun 2008 meningkat 3 persen menjadi 358,718,699 barrel dari tahun sebelumnya sebesar 348,357,604 barrel. 

Meskipun naik, namun secara umum tren pada satu dekade terakhir terus menurun. Kondisi sumur minyak yang sudah tua yang produktivitasnya turun menjadi sebabnya.
Menurut BP Migas, 85 persen sumur minyak di Indonesia sudah tua dan mengalami penurunan produksi rata-rata 15 persen dalam setahun. Menurunnya produksi pada sumur-sumur tersebut kurang diikuti dengan penemuan dan eksploitasi sumur baru yang cadangannya besar dan bisa diandalkan sebagai salah satu sumber produksi utama. Dalam jangka panjang penemuan sumur-sumur baru ini menjadi kunci dalam peningkatan produksi minyak mentah di Indonesia.

Sementara itu, upaya peningkatan produksi dalam jangka pendek adalah dengan penggunaan metode dan teknologi yang lebih baik pada sumur-sumur minyak yang sudah ada seperti teknologi steamflood.

Teknologi steamflood dilakukan melalui penginjeksian panas pada suatu sumur injeksi dan kemudian minyak akan dihasilkan pada sumur produksi. Proses steamflood dapat dilakukan pada suatu sumur minyak (reservoir) dengan kriteria tertentu. 

Salah satu reservoir yang dapat dinjeksikan steam adalah reservoir dengan air di bawahnya atau lebih sering disebut Reservoir Bottom Water. 

Dengan menerapkan teknologi tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan hanya primary recovery. Teknologi ini juga dapat memperpanjang usia produksi lapangan.

Teknologi ini diantaranya diteraplan di Lapangan North Duri Area 12 yang dikelola PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) di Riau.

Proyek Steamflood dilokasi tersebut menggunakan gas yang berasal dari Conoco Philips. Pemerintah telah meminta Conoco Philips agar memprioritaskan produksi gasnya untuk mendukung proyek ini.
Teknologi lain yang digunakan adalah infill drilling enhanced oil recovery (EOR) yang bisa menambah produksi hingga 290 barel per hari dari seluruh sumur minyak secara total.
BP Migas yang membawahi operasi industri hulu minyak juga mendorong produksi minyak mentah dengan percepatan proyek percontohan water flood di Pertamina E&P yang telah dilakukan di lapangan Kenali Asam dan Bunyu.

Setelah kedua lapangan ini, cara serupa akan diterapkan pada di lapangan Nglobo, Talangan Jimar, Tanjung, dan Rantau.

Strategi yang ditempuh pemerintah dalam meningkatkan produksi adalah mendorong kontraktor kontrak kerja sama meningkatkan kegiatannya di lapangan yang terabaikan, serta mendorong kontraktor melakukan evaluasi percepatan peningkatan produksi dari sumur tua dan sumur-sumur yang sudah ditinggalkan.

Lifting fluktuatif

Lifting minyak merupakan indikator rata-rata yang produksi minyak mentah setahun yang digunakan sebagai acuan dalam penerimaan pendapatan dari sektor migas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di Indonesia. Pada tahun 2009, lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 950.000 barrel per hari.

Target lifting ini dalam beberapa bulan awal tahun 2009 terlewati, namun juga tidak tercapai. Pada bulan Februari, Maret, dan April target mampu dilewati Sementara pada bulan Januari, Mei, Juni, dan Juli target ini tidak mampu dicapai.

Secara rata-rata hingga 7 bulan pertama tahun 2009, produksi minyak mentah mencapai 925,13 barrel per hari atau masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 950.000 barrel per hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar